Perahu Agung Pengantin Baru

07/05/2009
By admin

Hari itu, sang surya tanpa segan-segannya membakar kota tua Banda Aceh. Deru mesin mobil meraung-raung dijalan nan sempit itu. Motor pun tak mau ketinggalan menyumbangkan asapnya yang menyesakkan dada. Sebuah mobil Suzuki X-Oper Bl 757 LC berhenti di jalan menuju Kampus Serambi Mekkah, Desa Batoh, Banda Aceh. Beberapa kendaraan roda dua lainya mengerumuninya dari belakang.

Dari balik kaca mobil bagian depan yang setengah terbuka itu, tampak seorang pemuda tampan. Ia berpakaian adat Aceh lengkap dengan sebilah rencong menghiasi pertengahan tubuhnya. Sesekali, Kopiah Aceh yang dikenakannya lelaki itu nungging kedepan atau kebelakang. Sepertinya kopiah itu terlalu berat buatnya. Tapi ia tetap terlihat tabah.

Seratus meter dari mobil itu, serombongan orang tampak berkerumun di beranda sebuah kedai fotokopi. Kemumunan itu tak terlihat seperti orang yang ingin menfotokopi surat kelakuan baik untuk melamar pekerjaan. Namun mereka terlihat seperti menungggu sesuatu. “Kok lama sekali ya, coba periksa apakah protokoler disana sudah siap menyambut kita” perintah Lukman Abda, salah seorang dari rombongan itu kepada securitinya, Andre. Kening lelaki berjenggot lebat itu tampak berkerut dan matanya disipitkan. Mungkin ia menahan silau matahari yang mnyengat hingga keubun-ubun.

Tak lama tempo, langit kota itu memuntahkan titik-titik air. Mentari yang terik pun dipadamkan gerimis. mobil di tepi jalan tadi bergerak perlahan menuju sebuah ruko yang dilengkapi tenda. Tenda itu dipagari dengan beberapa spanduk bekas, puluhan kursi, meja prasmanan yang dilengkapi aneka makanan lezat. Didepan tenda berdiri tegak sebuah gabura dadakan. Gapura itu berbahan dasar besi dan dihiasi dengan bunga palsu. Satu meter dari gapura terdapat tenda mini yang dilengkapi sebuah meja dan empat kursi.
Di bawah tenda itu juga tampak dua perempuan muda yang cantik. Yang satu hidungnya mancung keluar dan yang satu lagi hidungnya agak pesek. Mereka selalu tersenyum pada yang melintas. Untung gerimis, kalau tidak, bisa kering kerontang bibir dan gigi-gigi mereka.

Mempelai laki-laki itu turun dari mobil. Ia pelan saja. Sementara puluhan orang dengan tudung-tudung besar mengiringinya. Setelah disambut, tuan rumah mendudukkannya di atas kursi. Lantunan irama Ranub Lampuan menyeruak diantara puluhan hadirin.

Enam penari cilik melenggak-lenggok bak para dayang di zaman kerajaan. Salah satu penari memapah baté atau tempayan tembaga berukuran besar, sedangkan lima lainnya memegang baté berukuran kecil. Beberapa fotografer amatiran juga memotret momen sekali seumur hidup Yusuf–kalau sekali ini saja Yusuf menikah. Ozan juga tak lupa mengabadikan Yusuf dengan Canon 350 D dari berbagai sudut.

Yusuf benar-benar terlihat seperti seorang raja di masa silam. Dia tampak sangat menikmati tarian tersebut. Kepalanya manggut-manggut layaknya seorang raja yang sedang mendengar laporan punggawanya bahwa upeti dari negeri taklukkan sudah menumpuk digerbang istana. Mulutnya komat kamit mengunyah sirih hijau yang dicilet sedikit kapur pemberian para penari cilik itu.

Atraksi itu usai sudah, lantunan irama Ranup Lampuan pun menghilang di keramaian. Yang terdengar hanyalah riuh rendah suara para hadirin dibawah guyuran hujan. Yusuf pun dipapah ke pelaminan yang terhias elegan. Pelaminan itu bercahaya, agung dan indah.

Sementara para tamu langsung menyerbu eneka makanan lezat itu. Di antara banyak tamu, Andre tampak di garda depan layaknya panglima perang dalam film kolosal. Andre yang kesehariannya bekerja sebagai security Harian Aceh, bertubuh tegap dan berambut cepak, seolah yang membuka acara “perbaikan gizi” siang itu. Tak mau kalah, Roni Purnama, sang redaktur kota menyusul lelaki tegap tadi, dengan sigap ia memindahkan nasi dan satu persatu jenis lauk ke piringnya.

Sementara Suriadi tak seceroboh dua kawan tadi. Dengan begitu cekatan Ia memutar-mutar bola matanya ke kanan dan kekiri, ia mengamati dengan seksama sebelum memilih lauk yang akan disantapnya. Lain halnya dengan Otong. Loper HA ini tak pedulikan tentang menu makanan, ia tampak sibuk mencomot berbagai hidangan yang ada tanpa pandang bulu. Disi kanan tenda, Pimpinan redaksi Harian Aceh berdiri tegak mengamati saja berbagai tingkah polah jajarannya dan tamu-tamu lain berantrian di bawah tenda berhias itu. Sesekali senyum tipis menghiasi wajah pria cemara angin itu.

Ditenda yang satu lagi, puluhan perempuan tua dan muda sibuk dengan piring masing-masing. di sana ada Sasnipal staf redaksi HA duduk dibangku paling belakang. Ia mengunyah nasi pelan. Matanya liar kesana kemari. Sesekali melihat ke tenda para lelaki. Entah apa yang ada dibenaknya. Jangan-jangan hal itu dilakukannya untuk mengantisipasi bila ada lelaki yang memandangi ia makan. Selain Sasnipal, disana juga ada isteri Pemred, Nur Akmal. Ia ditemani buah hatinya.

Piring-pring para tamu kini kosong sudah. Para undangan pun menyerbu Beberpa ibu paruh baya memberi isyarat kepada Yusuf agar ia tak grogi dipelaminan. Mempelai laki-laki dan perempuan bersanding dengan penuh suka cita. Matanya tampak berkaca-kaca, entah karena terharu yang menyelubungi lubuhnya nan dalam atau menerawang jauh dilangit-langit didinding rumah itu.

Mungkin itulah buah dari perjuangan kerasnya selama ini. Dua tahun Yusuf terkurung dalam ruang redaksi 4×4 Harian Aceh untuk mengumpul kepingan-kepingan uang. Tiap malam ia bersama empat rekannya mengatur tata letak halaman Koran itu. Kebahgiaan pun telah diraihnya dengan sukacita.

Perjuangan menggapai pelaminan memang telah usai, namun perjuangan mengarungi bahtera rumah tangga sudah di batang hidungnya. Perahu agung telah dibuka Yusuf, layarnya pun telah terkembang. Perahu itu siap mengantarkan yusuf ke pulau impian.

Begitulah sepenggal kisah saat intat linto Muhammad Yusuf di Nisam ke rumah mempelai perempuan di Jalan Kampus Serambi Mekah, Batoh, Lungbata, Banda Aceh. Kami keluarga Besar Harian Aceh Mengucapkan Selamat Atas Pernikahan Sahabat tercinta. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warrahmah dalam lindungan serta limpahan karunia Allah subhanallahi taala.

Ditulis oleh Rahmat RA, Feeture ini dipersembahkan untuk Muhammad Yusuf dan Raihan Laily pada 2 Mei 2009.

Popularity: 15%

Tags: ,

10 Responses to “ Perahu Agung Pengantin Baru ”

  1. Fadli Idris on 07/05/2009 at 01:33

    Mantap tulisan nya, terasa berada di acara pestanya. kapan aku menyusul ya….

    Hiks……….

  2. Fauzan on 07/05/2009 at 02:06

    @ Fadli Idris
    Iya ya, kapang Pang merid…

  3. Aulia on 07/05/2009 at 14:31

    padaha ni udah bulan mei lo….

  4. zee on 11/05/2009 at 14:55

    Memang kalo sudah terlalu lama melajang & keenakan cari duit, bisa lupa utk merid… tp untunglah kawannya itu gak lupa.
    Congrats buat mereka.

  5. manggIs on 12/05/2009 at 12:22

    Wuuih romantisnya….

    Kapan nyususl juga…???

  6. RN on 12/05/2009 at 21:01

    Pertama: Selamat kepada Yusuf dan Raihan
    Kedua: Kala begini kau menulis feature, Rahmat, sepertinya lebih cocok sbg reporter daripada layoter. hehehe…
    Ketiga: Ingat, Zank, Poh Wa blah eeeekkkkk…
    Kesekian: Aku rindu kalian kawan-kawanku. Aku rindu membentak-bentak di ruang seukuran 14 meter itu, aku juga rindu kalian bentak sesekali. Apalagi, kalau sudah tiba pukul 00.00 Wib. Kalian pasti belum bisa meniru suaraku “poh wa blah ekkk…” hihihihihi…

    Saleum.

  7. Anton on 13/05/2009 at 21:02

    Salam kenal
    Bagus banget tulisannaya …

  8. Pozan on 14/05/2009 at 00:32

    @ zee
    Tq.

    @manggIs
    Insyaalah bualn 6

    @RN
    Aku ingat..

    @Anton
    Salam kenal balek..

  9. Eka Situmorang - Sir on 18/05/2009 at 18:01

    Selamat ya Mas untuk pernikahannya
    semoga langgeng hingga akhir hayat
    (amiin)

  10. harianku on 19/05/2009 at 04:03

    semoga sukses dan tidak ada halangan yah mas..

Leave a Reply