“Bohong Itu Dosa…” Mau?
SEMUA agama menyatakan yang berbohong pasti dosa, yang tidak beragama apa ada kata dosa, setidaknya tidak jujur, tidak beretika. Terus, bagaimana rasanya jika kita dibohongi? Jelas kita tidak berdosa, namun rasa kesal pasti ada. Itulah yang saya rasakan setelah saya mau membeli dua kartu GSM 3 (baca tri), yang ditawar oleh tiga cewek sales 3 di taman Sp. Beurawe, Sabtu kemarin.
Hari Sabtu, saya libur kerja. Kebetulan hari itu saya menderita ‘kangker’. Eps… bukan penyakit yang mematikan itu, tapi menderita kantong kering alias kehabisan duit. Uang jajan pastinya.
Ngak lucukan, libur kerja nga ada duit, walau hari itu saya juga tidak tau berbuat apa atau mau kemana. Karena saya bukan tipe orang yang suka jalan-jalan.
Akhirnya saya pinjam Smash Bang Mahlil, terus meluncur ke ATM PermataBank di simpang lima atau simpang Pante Pirak Banda Aceh. Syukur ATM-nya sepi. Masukan kartu, tekan pin xxxxxx. Rp300 ribu berhasil mengisi kekosongan dompet saya.
Keluar dari ATM, mata saya langsung melirik ke arah kiri. Hmm… Ada dua cewek yang menjual es krim dan jagung beurtoh—bahasa kerennya popcorn—di toko Fun Land samping PermataBank tadi.
“Minta satu” saya acung telunjuk sambil menunjukkan ke arah popcorn yang sudah di bungkus. Saya ambil popcorn dari cewek cantik itu, saya kasih duit Rp100 ribu, dikembalikan Rp85 ribu—bukan maksud untuk sombong saya tulis begini, mentang mentang baru ambil uang dari ATM. Hal ini bermaksud, saya ini seolah-olah sering beli popcorn di tempat itu, dan seolah olah sudah tau harganya, padahal baru pertama kali, halah… sok kenal cewek cantik. Lagian tenggorokan saya masih radang, karena sakit kemarin. Jadi, kalau bersuara, masih serak kaya ‘doraemon’. Hal ini jadi bahan ejekan kawan kawan, “baling-baling bambu” celutuk Rahmat RA atawa Yusuf, kalau nada bicara tambah berat dan ngak jelas dan berakhir dengan batuk batuk. He… he… he… Ada ada saja.
Yah, jadi ngawur. Sampe mana tadi. Oo… ya, setelah kasih ‘pajak jalanan’ Rp1000 kepada tukang parkir, saya langsung melunjur ke arah Pante Pirak, belok kiri tembus ke Kuta Alam.
Tiba di simpang Beurawe-Kuta Alam, saya berhanti di taman Sp. Beurawe. Taman baru yang dibangun Pemkot Banda Aceh dari dana BRR, sudah ramai dikunjungi berbagai kalangan sejak dua bulan terkahir. Taman yang menghadap ke arah krueng Aceh (Sungai Aceh) ramai menjelang sore, kebanyakan muda-mudi melepas panatnya suana kota. Di ujung taman ada dibuat dermaga kecil menjorok ke sungai. Dermaga ini sebagai pintu masuk untuk menuju taman wisata air kota Banda Aceh, dan menuju ke pintu selanjut di Peunayong. Hal ini masih dalam tahap wacana Pemkot Banda Aceh.
Di taman ini, saya mapir sejanak untuk sekedar menjajakan mata melihat air sungai sambil makan jagung beurtoh tadi, eh… popcorn. Saya mapir ke sini karena saya memang lagi bete istilah gaulnya. Biasanya kalau ngak tau kemana lagi, paling nge-net, nge-chat, nge-blog, nge-blog walking dan nge nge lainya di kantor. Tapi karena hari libur, kantor tutup dan tak seorang pun boleh masuk.
Setelah parkir smash di pingir jalan, naik trotoar, jalan berapa langkah menuju pintu taman yang ada empat anak tangga turun kebawah. Taman ini agak rendah dengan badan jalan Kuta Alam setinggi satu meter lebih. Sambil lirik kiri-kanan mencari tempat kosong, ternyata kursi berpayung deret ke empat yang kosong. Deret petama ada cowok-cowok, kedua cewek-cewek cantik, dan yang terakhir ibu hamil bersama anak perempuan kecil lagi minum air kelapa muda. Di deretan kayak halte menghadap ke arah sungai ada bapak-bapak dangan anak anak dan pasangan muda-mudi lainya.
Rupanya saya pengunjung yang ‘jomblo’ alias tidak ada pasangan cewek maupun cowok. Dengan kesendirian pula saya makan popcorn. Memang agak terlihat kere dengan menenten sekantong popcorn lalu mapir di taman, macam kapungan atau boleh pakek istilah Tukul, katrok, he… he… Biar tak macam orang kampung, saya pesan air kelapa muda. Eh… ternyata lebih ndeso lagi air kelapa mudanya warna pink, campuran sirup cap patung. Walah walah…
Semenit, dua, tiga…. lima belas menit kemudian saya coba SMS Dinda. “Salam… lgi dmna? pain? Za lgi di tmn berawe mnum air klapa muda. Mau?” SMS ini langsung terkiring, sesaat kemudian saya terima balasannya. “Walaikmsalam… drumah, lagi gosok baju, za dng siapa distu?”. Saya replay lagi SMS-nya, “Sendiri, mau? Ke sana aja”. Di balas lagi, “Ya dah, lajt aja”.
Wah… Ternyata air kalapa muda tidak menarik minat Dinda untuk menemani saya sendiri di sini. Tapi tak apalah, lagian dia juga masih banyak ‘pr’ di kosnya.
Jadilah saya sendiri duduk di bawah kursi berpayung seperti bentuk jamur merang lagi kembang. Di temani segelas air kelapa muda dan sekantung popcorn, santai juga ya. Pertama saya duduk di kursi ke arah utara berhadapan dengan badan jalan Kuta Alam, kemudian saya pindah ke kursi satu lagi yang ke arah selatan, langsung bisa menikmati aliran sungai Krueng Aceh.
Selain menjadi tempat refresing alternatif, taman ini juga jadi sasaran cewek-cewek sales untuk promosi produknya kepada pengunjung taman. Bagaimana tidak? Seperti di kursi deret ke tiga sebelah kanan saya, tiga sales cewek mengenakan baju warna pink, bertuliskan kata “Mau” tepat di tengah dadanya sedang merayu cewek-cewek perkenalkan produk GSM 3.
Oo… Salah satu sales 3 dengan saya saling tatapan mata. Dia mengumbar senyum dan saya mengalihkan padangan. Sesaat kemudian, ketiga sales 3 tersebut menyerbu saya dan berkata, “maaf bang menggangu duduknya”.
“Gak papa,” saya menjawab dengan suara serak.
“Kok sendirian, temannya mana atau lagi nunggu pacar, ya”, basa-basi salah satu cewek 3 membuka pembicaraan.
“Ya, lagi sendiri”.
“Bang, sudah tau produk 3 belum”, tanya cewek satu lagi dan menyerahkan selebar brosur yang bertuliskan “murah tanpa tapi”.
“Sudah…!”
“Mau coba 3, bang. Kami tidak menyuruh abang ganti kartu kok. 3 kalo nelpon Rp60 sekali nelpon, terserah berapa lama”.
“Sinyalnya sudah ada?”, tanya saya lagi.
“Sinyalnya ngak usah diragukan lagi. Saya pakek 3, sinyalnya penuh”, kata salah satu cewek sambil memperlihatkan sinyal HP-nya ke arah saya.
“SMS pakek 3, gratis selamanya, ke sesama 3. Ngak ada batas waktu, kalo operator lain kan, berlaku sampe bulan ini”.
“Silahkan diliat-liat nomornya. Mau ambil berapa, abang ada pacarkan? Siapa tau, buat pacar satu, ngak mahal kok, Rp10 ribu. Kalo di counter Rp15 ribu.
Cewek-cewek itu, ‘menyerbu’ saya satu persatu. Saya pun melihat-lihat beberapa nomor paket perdana 3.
“Ada nomor cantik, kalo ada saya ambil,” gerta saya.
“Abang suka nomor cantik, tapi kami kan labih cantik dari nomor-nomor itu, hehehe…” aku cewek yang aga gemuk dan paling putih diantara mereka bertiga.
Dengan sedikit senyum setelah mendengar kata tersebut, saya memang berniat untuk mencoba 3 sekaligus beli dua paket. Satu untuk saya, satu lagi untuk dinda. Kalo saya beli satu, mau hubungi siapa? Makanya saya beli dua, biar bisa teleponan murah dan free SMS ria bersama Dinda.
Akhirnya, setelah pilih-pilih, saya tertarik pada nomor 0898 4243 506 dan 0898 4243 507.
“Berapa?”
“Rp20 ribu aja”
“15, gimana?”
“Ngak bisa bang, itu sudah murah kok, kalau di counter ngak dapat”.
Kemudian, saya serahkan duit Rp20 ribu. Setelah mengucapkan banyak terima kasih, mereka pun beralih ke kursi nomor 1. Di sana mereka kembali merayu dua cowok yang lagi santai.
Tanpa tunggu waktu, paket 3 langsung saya buka dan pasang di HP. Sesaat kemudian masuk beberapa SMS dari 3 untuk keperluan setting, GPRS, MMS, Vidio Call–bagi HP yang mendukung 3G–secara otomatif. Anehnya, sewaktu SMS untuk mengaktifkan paket perdana, SMS-nya ditolak, kemudian muncul kata-kata semacam “Anda tidak usah registrasi”. Padahal, sebagai mana petunjuk tertulis di paket perdana, kita harus registrasi untuk mengaktifkannya.
Sebagai percobaan, saya coba menghubungi nomor Simpati Dinda. Tut… Tut… Klik, pembicaraan singkat dengan dinda berlanjut selama beberapa menit. Kemudian saya cek, berapa rupiah kalau nelpon ke operator lain. Setelah menekan *111*1# maka tampil, “Account detail. Pulsa utama: Rp8xxx (delapan ribu sekian-sekian, karana saya tidak mengingat lagi berapa detailnya). Sedangkan pulsa perdana kartu sebesar Rp 10 ribu. Berarti sekitar dua ribuan, saya wajar kerena ke operator lain. Di brosur pun ditulis Rp399 ke semua operator, nelpon dari menit ke 1 selama 24 jam.
Saya bangkit, lalu meninggalkan taman ini, seraya membayar air kalapa muda. Dan sekali lagi, Rp500 untuk pajak parkir yang tiba-tiba tukang parkir mendekati saya. Di Banda Aceh, kemana-mana selalu bayar parkir.
***
Malamnya, bersama Dinda, saya makan bakso di Cafe Hendra-Hendri samping masjid Baiturrahman Banda Aceh. Tempatnya walau agak tersembunyi di belakang toko lain, dan harus melewati gang sempit dan masuk ke ke dalam sekitar 10 meter, bakso hendra-hendri ramai dikunjungi pelanggannya. Bukan hanya pasangan muda-mudi menjajakan lidahnya ke sini, tapi bapak ibu barengan satu keluarga.
Sambil menikmati lezatnya bakso–pokoknya makyos, kalau boleh pakek kata kata Bondan Winarno–saya pun menyerahkan paket perdana 3 buat Dinda.
“Mau…” kata saya sambil menampakkan di telapak tangan saya. Maklum, lagi semangatnya pingin pakek 3, yang katanya Rp60 sekali nelpon dan free sms sepanjang hari.
“Makasyi…, pakek 3 kita sekarang”, sahut Dinda.
“Kita coba dulu, yaa… Siapa tau, rasanya lebih guris dari bakso ini”.
“Oke, kita pasang”.
Saya membuka paket perdana 3, dinda mempretelin N70-nya.
“Yaa… sinyalnya kok kagak ada”, sentak dinda setelah menghidupkan kembali HP-nya.
“Masak kagak ada, barusan Za telpon Dinda dah sampe dimana bisa kok”, bantah saya sambil mengeluarkan 9300i dari saku jean hitam kesukaan saya.
“Oiya… Sinyalnya tidak dapat”
“Yee… Apa juga pakek 3, sinyalnya kagak ada”.
“Maklum deh, 3 kan masih baru, jadi tempat ‘terisolir’ begini belum ketauan sama 3 bahwa di sini tempatnya selalu ramai dikunjungi orang. Berbeda dengan orang di belakang Da, sejak mereka pacaran dulu sampai sudah punya anak dua tetap jadi pelanggan setia di warung ini, karena mereka tau, ‘karena rasa adalah segalanya’, ya kan?” canda saya lagi sambil melirik tiga pasang keluarga bersama anak anaknya menikmati bakso Hendra-Hendri.
Selesai makan, Rp21 ribu bayar ke kasir, kemudian Rp1000 biaya parkir, kami pun pulang menelusuri masih ramainya orang sekira jam 10 malam. Jangan heran, sepanjang jalan banyak sekali pasangan muda-mudi di atas sepeda motor keliling kota Banda Aceh. Maklum saja, ini kan malam minggu, dan kami juga salah satu di antara mereka. He… he…
Setiba di rumah masing-masing, kami pun coba sambung pembicaraan sekaligus coba paket 3. Tapi sebelumnya masih belum dapat sinyal walau sudah di area aman. Setelah ke luar rumah dan putar-putar sambil mengangkat HP untuk menjaring sinyal, akhirnya, dapat juga.
Sesaat kemudian, langsung masuk SMS dari nomor 3 Dinda, menayakan sudah dimana. Rupanya dari tadi dia mencoba hubungi berkali-kali gagal selalu.
Saya pun lagsung menelpon nomor 3 dia. Pembicaraan pun dimulai, dari ngapain, lagi apa sekarang, chanel tv apa lagi ditonton, sampai ngolor-ngidul entah kemana.
Semenit…. dua, tiga, 10, 20, 30, 32 menit berlalu. Kemudian ada bencana melada HP saya, baterainya habis. Gawat, chrgernya ketiggalan di kantor. Dan akhirnya HP-nya mati. Pembicaraan putus.
Dengan berbekal charger kurang sehat, HP saya mencoba mengisi dikit demi sediki power li-ion berkekuatan 3,7 V. Setelah 25 menit kemudian baru saya on kembali.
Sebelum menelpon kembali, saya ingin mengecek berapa nilai pulsa saya setelah telponan tadi. Dengan menekan *111*1#, account detail pulsa kita ditampilkan. Dan ternyata pulsa utama saya tinggal Rp5005.
Waduh… saya di bohongi, seharusnya pulsa saya senilai 8 ribu kek, atau 7940 karana di potong 60 perak. Ini mah bukan, tapi sekitar 3 ribuan. Apa juga nelpon ke sesama 3 Rp60, umpat saya dalah hati. 3 Bohong.
Kesel dan kecewa dengan 3, saya coba telponan lagi sama Dinda, dan menceritakan perihal tadi, bahwa kita dibongongi 3.
“Mau?” ejak dinda di seberang sana.
Kemudian saya bilang sama Dinda, kita putusin dulu telponannya, karena saya masih penasaran dengan tarif 3 yang sebenarnya. Kemudian saya cek lagi pulsanya, pulsa anda sekarang Rp4840. Dan lagi lagi-lagi nelpon sesama 3 dan selama berapapun bukan Rp60, tapi hitung sendiri dari percobaan saya tadi.
Malam semakin larut. Sekitar jam 12 malam, saya telpon lagi nomor 3 Dinda. Dan pembicaraan saya lanjutkan. Bla… bla… dan bla bla…
Akhirnya putus lagi setelah melewati 52 menit lebih. Mungkin ini sudah kehabisan pulsa. Saya cek lagi, pulsa anda Rp500. Saya tes mis call, eh…. masuk lagi. Dan saya bilang, pulsanya tingga 500 perak, kita tes putuskan lagi. “Jangan…” kantanya, dan klik saya putuskan lagi. Saya cek lagi tarif yang dipotong belum sampe satu menit, pulsa anda Rp491. Masih ngak mau jujur rupanya.
Saya telpon lagi dengan sisa pulsa Rp491 dan masih bisa masuk. Saya bilang ke dinda dengan kesel sambil membaca brosurnya ‘kalo di 3, murah tanpa tapi’, tapi apa? tapi potong suka-suka dia. 3 bohoooooooooooooooooong…
“Setelah pulsa ini habis, bongkar HP. Keluarin kartu. Ambil palu, hancurkan kartu 3, bham.. bham…” keluh saya lagi.
“Ya udah, tidak usah kesel lagi…” kata Dinda, seraya menenangkan abangnya, eh saya maksudnya.
Setelah beberapa menit kemudian, pembicaraan kami putus lagi dengan menyisakan pulsa terakhir Rp160. Tak bisa lagi telponan, walau si cewek-cewek sales itu bilang, pulsa di atas 60 masih bisa telpon. Nyatanya tidak bisa.
Siapa yang bohong? Operator 3 atau cewek itu. Yang jelas mereka menjalankan sesuai prosedur manajernya sebagai sales 3. Menjual paket perdana GSM 3 tak perlu membohongi pelanggan, karena bohong itu dosa. Mau?
Popularity: 22%









Pakeun jeut lage nyan ??
Padahai hana keuneuk blo kartu 3 nyan, cuma male ngeun aneuk ineung yang 3 droe nyan nyeuh ?? hehehe… MAU ???
oooolalal… namanya aja orang jualan bang, semua cara dilakuin, haram nomer 1 dan halal nomer 1000, hidup didunia kapitalis memang begitu, uang adalah segalanya, dan kejujuran cuma ilusi…. good job bang, kita jangan tertipu lagi… mau ?
Oma bang ozan ro kueh keuneng tipe bak ce2 SPG…
sayang that lagoe
Kekekeke…. 3 ce itu kayaknya kurang product knowledge, jadi mungkin waktu menyarankan itu ga dipikir dulu.
hehehe pasti dinda Ros, mank nye jak ngen dinda saket2 puleh…lanjud
Namanya aja 3 (TRI). Jadi, kualitas dan harganya tetap nomor 3 (tiga). Gak akan pernah dia jadi nomor 1 (satu). Cocok Kurasa???
terjebak mbak-mbak sales rupanya
wah kok provider seluler kerjanya ngebohongin konsumen…apa ngak takut dituntut tuh yah mereka ?
ari maneh kumaha dewekmah menta no. awewe yehhhh klah ngomongkeun kartu.. ari akang sugan gende teuuuu…
bisa bantu saya cariin cewe dong……..saya lagi patah tulang,,,,,,kalo ada kontak no ini;;;;;;;;;085220773779
3..jaringan selular mu!! Mau????
perang tarif semakin gencar, cara pembodohan kepada pelanggan pun semakin pintar. Jadi jangan Gampang terkecoh ya bang..hehehehehehe
[...] miskin lagi, bagaimana kalau saya menulis cerita tentang semua itu, seperti tulisan waktu dibohongi GSM 3. Menulis seperti itu gampang lho, bak air [...]