PULANG ngopi bareng anak-anak Aceh Blogger, aku sempat-sempatnya beli ikan di pasar ikan dadakan di jalan menuju ke rumah, di Gampong Punge Jurong, Banda Aceh.
Biasanya, aku jarang berbelanja ikan maupun keperluan dapur lainnya. Semua itu aku serahkan sepenuhnya pada isteri. Biar isteriku saja yang mengelola bagian itu satu lagi, ia lebih mampu ketimbang suaminya, walau itu adalah tugas kepala keluarga.
Sejak statusku menjadi suami, bisa dihitung dengan jari soal belanja ikan segar, sayur dan rempah-rempah dapur lainnya. Aku tak pandai dalam hal tawar-menawar. Lain lagi dengan isteri, soal tawar menawar harga dia ahlinya, beli satu kakap bisa dapat Rp 7 ribu. Coba bandingkan dengan aku, satu ekor tongkol besar Rp 50 ribu pernah aku beli. Kalo yang ahli tawar, tongkol itu bisa dapat 25-30 ribu.
Pernah juga aku beli ikan mirip kerapu, sampai dirumah, isteri tak tahu mau diresep dengan apa? Akhirnya di goreng saja, apa lacur, tidak enak dimakan, akhirnya jadi makanan kucing. Padahal ikan karang itu enaknya di asinkan, dan kami sudah pernah beli yang versi ikan asinnya. Lagi-lagi manambah daftar ‘truma’ berbelanja ikan.
Kemarin, entah kenapa aku tertarik beli ikan. Tapi bagitu sampai di persimpangan jalan menuju ke rumah, sudah nampak para penjual ikan dadakan itu——kenapa aku sebut pasar dadakan, karena ini bukan pasar resmi, jam jualan pun dimulai 4 sore, itu pun ulur-ulur dengan petugas Satpol PP. Disini memang dilarang jual ikan, karena disitu ada pintu gerbang sekolah dasar, kantor MUI dan sekolah Muhammadiyah. Namun para penjual nekat membuka lapak, apalagi menjelang malam makin ramai yang jualan ikan di persimpangan penghabisan jalan Muhammad Jam itu sangat stategis untuk target market yang lagi pulang kerja dan aktifitas lain yang malas masuk pasar ikan resmi.
Setelah lihat-lihat dan lirik sana sini, ada tongkol,bandeng, satu tumpuk cumi-cumi, kerapu ada beberapa orang yang jual, kakap merah dan hitam yang dominasi di pasar ikan dadakan kali ini. Mau tau kenapa banyak yang jual kakap, ini masih dalam suasana tahun baru, jadi banyak yang bakar ikan, termasuk saya juga lho.
“Mau yang mana, yang merah, ini kakap pak, yang hitam lebih enak, pak” tawar salah satu penjual kepada saya.
“Hmm… O… ini kakap——dalam hati kurang yakin ini ikan kakap, takut salah beli seperti kemarin. Ada yang lucu setelah saya beli ikan ini, nanti saya ceritakan yang lacu itu, di akhir tulisan——yang kakap hitam ini saja bang, berapa?”, kata saya sambil menujukkan kakap hitam.
“Mau berapa ekor…”
“Kakap merah berapa, kakap hitam berapa harganya.”
“Ya… mau berapa tumpuk bapak mau, biar saya kasi harga pas.”
“Untuk apa banyak, satu saja…”
“Hmm… satu Rp30 ribu.”
“Kemahalan…”
“Rp25 ribu…”
“Rp20 ribu…, sambil nunjukin lembaran duit Rp 20 ribu sama Rp 1000.”
“Ya udah… Kalau ada duit Rp35 ribu dapat dua ekor”
“Ngak ada Rp35 ribu, Rp30 ribu ada”, saya jawab asal-asal saja.
“Ya udah, bungkus…”
Begitu saya kasi lembaran Rp 100 ribu, dikembalikan Rp 65 ribu.
“Lha.. kok segini, Rp 5 ribu lagi kemana….”, saya pun komplain.
“Memang segitu dek, yang satu 20 satu lagi 15…”
“Betul dek…” kata asisten penjual. Lagi-lagi saya dikerjain sama penjual ikan.
Yah…. Kalaupun saya tak jadi beli sah-sah saja, tapiiii tak segitu-gitunya kaleee…
“Iya… salam dulu kita.” kata penjual ikan itu sambil menjulurkan tangan sebagai tanda bahwa, jual beli yang tadi itu sah secara hukum islam——dalam islam hukum jual beli ada aqadnya juga, ‘barang untuk anda, uang saya terima’ kira-kira begitu. Namun jarang sekali ditemui dalam praktek jual beli islam.
Walau agak merasa kecewa, saya pun ikut salaman, cuma hanya cas saja. Lha, tangannya basah dan bau ikan. Yee…
“Pesan moral saat belanja ikan, kasi duit pas”
Tiba dirumah, saya surprise ikan kakap kepada isteri.
“Yah… tumben beli ikan, dapat angin mana abang…” kata isterku.
“Bakar ikan kita malam ini…” ajak saya.
“Oke juga, tapi waktunya ngak pas lagi, sudah larut malam, lagian Nda——panggila singkat buat isteri, bunda——dah kenyang. Emang ikan apaan.”
“Ya udah, besok siang saja kita bakar. Katanya sih ikan kakap.”
“Masak kakap, ikan karang kek kemarin tu kayaknya.” jawab isteriku kurang yakin akan kakap itu.
“Yah… tapi kata penjual tadi, itu ikan kakap, kalo yang model merah ada juga, tapi abang pilih yang model hitam, lebih enak kata asisten penjual.” jawab saya lagi, dan keraguan akan ikan kakap itu mulai merasuki pikiran saya.
“Mau kakap atau bukan, ya udah. Yang penting abang sudah beli ikan. Emang berapa tu kakap” hibur isteri sambil penasaran akan harga.
“Rp 30 ribu… Murah ngak ya. Tapi waktu abang kasih duit seratus dipotong Rp35 ribu”
$_$… gerutu isteri sama penjual.
Dan sayapun langsung hidupin laptop, trus konek pakek Tsel. Trus buka lembaran pencarian mbah Google. Lalu saya ketik “IKAN KAKAP”
Keluarlah lembaran jawaban mbah Google dengan beragam gambar ikan kakap.
“Nda… benar tu ikan kakap, coba tengok gambar dari Google. Bentuk batok kepalanya agak mirip Mercy C class kan”, kata saya sambil nunjukin gambar ikan kakap hitam, dan yang merah dan lain-lainya.
Isteri, senyum simpul, melihat tingkah suaminya yang agak segitu-gitunya kalee…
Rupanya, isteri ku ngak bisa membedakan juga ikan kakap, yang dia tau ikan kakap itu warna merah——memang yang merah-merah itu meriah eiuh, sama perempuan.
Besoknya kami mini party ikan bakar kakap bertiga sama dek Joel jelang makan siang. Hmm… Enak.[]
Popularity: 11%







January 3rd, 2011 at 04:23
kakap sih kakap, tapi ga segitoonya kallleeee..
January 9th, 2011 at 23:20
ikan bakar kok rata-rata mahal yah… aneh lah