Jun 27
LAMA ku berjalan dengan air mata kering, kalbu surut. Hati terpatri, nafsu ketawa batin menangis, jatahnya terkikis bisikan Siti.
Di layar maya ku memandang senyummu dengan sedikit rasa rindu. Perasaan rada bosan, badan bersandar di kursi empuk sambil menunggu. Tangan asyik pencet mengikuti irama Siti. Tanpa sadar satu pesan terbang lewat layar maya, tapi nyata.
Pesan balasan pun tiba dengan wajah ceria.
“Pernah dengar bathin menangis, kebutuhan rohani selama ini kau penuhi, kini kau tinggalkan. Waktu yang biasa kau gunakan untuk menelponku cukup kau gunakan untuk baca yasin”.
Gerakan tangan berhenti tiba-tiba, aliran darah seakan berhenti. Jantung bergemuruh memecahkan merdunya nyanyian Siti Nurhaliza. Dua patah kata terpampang di layar maya mampu menggugahkan hati mati. Haru, itulah yang kurasakan.
Bagaikan oase mengobati dahaganya kalbu kering. Hati hidup kembali. Mata keluarkan setetek embun. Batin terharu nafsu menangis, jatahnya tersapu oase di layar maya.[]
To: Ana, telah mampu mengeluarkan setitik embun di kelopak mata kering.
Popularity: 3%
Recent Comments